Konon, sembilan puluh persen dari pemilik usaha atau pimpinan perusahaan yang memulai karirnya dari bawah pernah menjadi salesman.
Jelas, profesi salesman menuntut orang menjadi kreatif, optimis, pantang menyerah dan berbagai ketrampilan lain yang menjadi modal penting bagi yang bersangkutan menjalani hidup yang tidak mudah ini.
Namun profesi salesman juga dicibir oleh banyak orang sebagai pekerjaan rendahan yang penuh dengan tipu muslihat, manipulatif, suka memaksa sampai cenderung mengintimidasi dan sebagainya.
Salah satu contohnya, simak kisah berikut:
Sebut saja Yusuf, sedang jalan-jalan di sebuah mal ketika tiba-tiba dia disodori sebuah souvenir berupa cairan pembersih disertai ajakan untuk mampir sejenak ke stand / toko si salesman.
Sebagai orang timur yang punya rasa sungkan yang berlebihan (sudah dikasih souvenir kok menolak undangan), mungkin begitulah Yusuf berpikir, maka mampirlah sejenak untuk mendengarkan apa sih yang ingin disampaikan oleh si salesman.
Salesman ini mulai melancarkan aksinya, biasanya diawali dengan basa basi menanyakan “Apakah Bapak Yusuf ingin mencoba keberuntungan dengan menarik salah satu undian tarikan” disertai dengan jaminan bahwa Bapak Yusuf tidak mempunyai keharusan untuk membeli apapun.
Umumnya orang akan berpikir, why not…, nothing to loose bukan?
Selanjutnya adalah atraksi undian yang ditarik dan “Anda memenangkan hadiah 5 juta rupiah dengan embel-embel harus membeli salah satu produk lain dari toko tersebut”. Meledaklah kehebohan di toko tersebut, semua salesman akan datang menyalami dan berkomentar,
“Wah, Bapak beruntung sekali…”
“Sudah setahun terakhir tidak ada orang yang memenangkan hadiah sebesar ini loh”
terkadang diselingi dengan sandiwara dari salesmannya yang seakan tidak percaya, sehingga perlu mengkonfirmasikan lagi dengan atasannya apakah betul hadiah sebesar itu nantinya bisa dikeluarkan.
Padahal saya bisa memastikan, setiap hari, setiap orang yang menarik undian juga akan mendapatkan hadiah sebesar begitu karena, cerita belum berakhir…
Selanjutnya mulailah si salesman memperlihatkan watak aslinya yaitu dengan menawarkan barang lain. “Bapak bisa mendapatkan hadiah tersebut kalau Bapak membeli produk ini”
Di toko ini ada berbagai macam produk elektronik dan perlengkapan rumah tangga yang bisa ditawarkan, ada vacuum cleaner, ada penyaring air, ada stereo set, ada electric oven yang semuanya made in timbuktu (negara tidak keruan entah dimana).
Kepada calon mangsanya, salesman ini membual sedemikian rupa seakan-akan produk mereka adalah yang terbaik didunia dengan harga yang sudah sangat pantas.
Sayangnya mangsa mereka umumnya rakyat kecil yang tidak pernah bermimpi mempunyai stereo set yang bagus. Mereka tidak tahu bahwa stereo set sekelas Pioneer, Sony, Panasonic, LG untuk seharga 3-4 jutaan seperti yang ditawarkan salesman saja sudah sangat-sangat bagus.
Disatu sisi, Pak Yusuf takut kehilangan kesempatan mendapatkan hadiah besar (menurut mereka), ditambah kekurangtahuan mengenai informasi produk yang ditawarkan menyebabkan banyak orang terkecoh.
Bukan saja terkecoh karena membeli barang-barang yang sangat-sangat over priced, melainkan juga membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, barang-barang yang tidak bisa dipakai dan sebagainya.
Barang-barang yang over priced contohnya, mini compo stereo set yang dijual 4 jutaan, kalau membeli produk sekelas bermerk Phillips, LG, atau Sony masih dibawah 2 jutaan. Electric oven (bukan microwave lho) yang dijual 3 jutaan, Microwave Oven Sharp yang paling high end saja baru sekitar 3 jutaan, sementara begitu banyak pilihan microwave oven sungguhan yang range harga cuma dari 800 ribu – 2 jutaan.
Barang-barang yang tidak dibutuhkan atau tidak bisa dipakai contohnya, saya pernah bertemu dengan korban yang membeli vacuum cleaner air seharga 3 juta (produk sejenis merk Karcher cuma 1,5 juta), padahal dirumahnya tidak ada lantai karpet atau apapun yang perlu di vacuum.
Ada pula yang membeli oven, atau vacuum cleaner sepulang sampai kerumah baru menyadari daya listrik dirumah cuma 4 Ampere sehingga semua yang sudah dibeli tidak bisa dipakai.
Lebih kasihan lagi adalah ada yang terkecoh membeli barang-barang demikian dikala anaknya sedang perlu uang pendaftaran sekolah dan membeli buku-buku sekolah.
Mengetahui sudah sedemikian banyak korban, saya sangat tidak sungkan dan tidak ragu untuk menunjuk salesman AOWA sebagai salah satu contoh jenis pekerjaan yang lebih banyak merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri.
Siapapun Anda dan apapun profesi Anda, adalah pilihan Anda memilih pekerjaan apa yang Anda sukai. Apakah pekerjaan Anda memberi manfaat kepada orang lain, atau pekerjaan Anda merugikan orang lain, silakan berkaca pada hati nurani masing-masing.