Media massa, baik cetak maupun elektronik jauh-jauh hari sudah memberitakan rencana pemadaman listrik bergilir yang akan kembali diberlakukan di Jakarta. Rencananya dari tanggal 11 Juli – 25 Juli 2008.
Masyarakat pun “bersiap”, pedagang genset pun menangguk untung.
Alasan pemadaman sekali ini tidak begitu jelas, apakah karena kurangnya pasokan bahan bakar atau perawatan. Namun PLN dengan yakin memastikan akan defisit pasokan listrik sebesar 150 megawatt.
Tiba harinya, eh ternyata sebagian besar wilayah yang sebelumnya disebutkan akan mengalami pemadaman tetap terang benderang. Warga kecele, demikian sebuah sub judul di Harian Kompas terbitan Sabtu, 12 Juli 2008.
Warga Jakarta bersyukur PLN tidak jadi padam, tetapi pertanyaan besarnya adalah BAGAIMANA ITU BISA TERJADI?
Apakah suplai bahan bakar yang tadinya dikuatirkan terlambat tiba mendadak tiba tepat waktu? Kalau itu terjadi, alangkah amburadulnya manajemen logistik dan transportasi PLN.
Apakah rencana perawatan pembangkit listrik yang sebelumnya perlu waktu dua minggu mendadak dibatalkan? Kalau ini gawat, sewaktu-waktu PLN bisa hang. Atau perawatan bisa dipercepat dari 2 minggu menjadi satu malam? Hebat sekali kalau ditengah-tengah kesulitan kita sekarang ada Sangkuriang bisa kembali beraksi.
Melalui Manajer Distribusi PT PLN Distribusi Jakarta dan Tangerang Widodo Budi Nugroho menjelaskan, satu hari sebelum pemadaman, pemilik usaha yang menggunakan listrik berdaya lebih dari 200 kilovolt ampere (KVA) berkomitmen mengurangi penggunaan listrik sampai 110 megawatt. Namun, saat pemadaman, penghematan bertambah sampai 130 megawatt.
Sebagai orang awam, jujur kita dibuat bingung. Pemilik usaha atau perusahaan mana yang rela (berkorban) ikat pinggang demi kelangsungan hidup listrik masyarakat banyak? Yang pasti, ini bukan perusahaan kecil karena mereka pelanggan listrik > 200KVA. Dan untuk mencapai penghematan 130 Megawatt, diperlukan lebih dari 600 perusahaan sejenis yang puasa listrik.
Masuk akal kawan?
Sesungguhnya sudah lama negara ini disandera oleh kaum kapitalis. Setiap kali keinginan kaum kapitalis tidak (belum) disetujui pemerintah, terjadilah fenomena-fenomena hukum dagang seperti contoh berikut:
Setiap kali asosiasi produsen semen meminta pemerintah menaikkan patokan HET (harga eceran tertinggi) dan pemerintah / DPR belum menyetujui, mendadak saja semen langka dipasar.
Demikian juga ketika tepung terigu masih dimonopoli baik impor gandum maupun distribusi terigu, jika pemerintah tidak menyetujui kenaikan harga, mendadak tepung terigu menghilang dari pasar.
Kasus BBM sih sudah lebih vulgar. Setiap Pertamina meminta “restu” agar bisa mempertebal pundi-pundinya dan belum diamini pemerintah, tidak lama kemudian kita bisa melihat berita antrian mobil di SPBU, antrian minyak tanah, kelangkaan elpiji dsb.
Biasanya tidak lama setelah itu, HARGA NAIK.
Tragisnya pemerintah kita memang lemah sih, sudah lemah konyol lagi.
Sehari setelah mengumumkan kenaikan harga BBM, pemerintah meminta pengusaha agar tidak melakukan PHK. Bukan hanya itu, pemerintah malah meminta pengusaha menaikkan tunjangan karena “beban masyarakat sekarang lebih berat”.
Pemerintah menaikkan harga BBM, tetapi tidak membolehkan PLN menaikkan tarif listrik. Pantas saja PLN ngambek.
Pemerintah dalam banyak kesempatan berusaha menarik simpati masyarakat dengan menginjak pihak lain. Di satu pihak pemerintah terus menggalakkan penanaman modal baru, tetapi di pihak lain pemerintah cuci tangan dan meminta pengusaha yang memberi subsidi kepada masyarakat.
Pemerintah di satu kesempatan mengeluhkan beratnya subsidi BBM yang harus ditanggung, tidak lama kemudian pemerintah mengundang pengusaha BBM agar menyisihkan keuntungan tambahan (windfall profit) setelah harga BBM naik.
Bingung kan…
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/12/01290152/pemadaman.dipersingkat
http://deltawhiski.wordpress.com/2007/08/25/only-in-indonesia/
http://deltawhiski.wordpress.com/2008/06/05/hilangnya-nalar/
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/24/05532576/pengusaha.harus.cepat.naikkan.tunjangan.buruh

Ngambek karna Gaji para pegawainya tidak naik setinggi yang mereka anggarkan.